image

Pencernaan Pada Kelinci

Kelinci termasuk jenis ternak herbivora yang memfermentasi pakan di usus belakangnya. Fermentasi umumnya terjadi di caekum yang kurang lebih merupakan 50% dari seluruh kapasitas saluran pencernaannya (Portsmouth, 1977). Pada umur 3 minggu, kelinci mulai mencerna kembali kotoran lunaknya, langsung dari anus (proses ini disebut caecotrophy) tanpa pengunyahan. Kotoran lunak ini terdiri atas konsentrat bakteri yang dibungkus oleh mukus (Hornicke, 1977).

Walaupun mampunyai caecum yang besar, kelinci ternyata tidak mampu mencerna bahan-bahan organik dan serat kasar dari hijauan sebanyak yang dapat dicerna oleh ternak herbivora lainnya (Slade dan Hintz, 1969). Untuk hijauan muda, daya cerna serat kasarnya mungkin hanya 10% (Uden dan Van Soest, 1982). Namun Parker (1976) memperkirakana bahwa asam-asam lemak terbang (VFA, Volatile Faty Acids) hasil fermentasi oleh mikroba dalam cekum menyumbang 30% dari kebutuhan energi untuk pemeliharaan tubuh (maintenance). Selanjutnya dikatakan bahwa kelinci mampu mencerna protein pada tingkat yang sama dengan, dan ekstrak ether pada tingkat yang lebih tinggi dari herbivora lainnya. Hal ini mungkin berhubungan dengan sifat-sifat caecotrophynya.

Kemampuan kelinci untuk mencerna serat kasar (ADF, Acid Detergent Fibbre) dan lemak bertambah pada umur 5-12 minggu (Evans dan Jabeliani, 1982). Hal ini penting artinya dalam standarisasi umur kelinci untuk pengukuran daya cerna (digestibility).

Pencegahan caecotrophy pada kelinci (6-8 minggu) menyebabkan penurunan pertumbuhan dan penurunan kemampuan daya cerna protein dari 77 menjadi 69% (Stephenss, 1977). Meskipun pembuangan caecum melalui pembedahan menghsilkan pembesaran kolon, ternyata kelinci tanpa caecum tidak melakukan caecotrophy (Herndon dan Hove, 1955).

Komposisi kimia dari kotoran lunak sangat berbeda dari kotoran keras yang dikeluarkan (Harris, 1983). Kotoran lunak diselaputi mukosa, mengandung sedikit bahan kering (31%) namun tinggi dalam protein (28,5%) bila dibandingkan dengan kotoran keras (53% bahan kering dan 9,2% protein). Kotoran lunak juga lebih banyak mengandung vitamin B. Knutson dkk. (1977) melaporkan bahwa populasi mikroba yang terdapat dalam caecum sangat aktif dalam memanfaatkan nitrogen dari urea darah yang memasuki caecum dan protein mikroba ini turut menyumbang tingginya kadar protein dalam kotoran ternak.

Spreadbury (1978) melaporkan bahwa kelinci sapihan dengan berat 1 kg menghasilkan 28 g kotoran lunak, yang mengandung 3 g protein setiap hari. Spreadbury (1978) menghitung bahwa dari 28 g kotoran lunak dikandung o,35 g nitrogen yang berasal dari bakteri atau kira-kira 1,3 g protein. Selama ransum-ransum diatas hanya mengandung kurang lebih 8% serat kasar, kemungkinan perkiraan Spreadbury (1978) bahwa protein kasar (106 g/kg) yang terkandung dalam feses lunak adalah minimum.

Agak sukar dijelaskan mengapa kelinci memiliki kemampuan yang rendah untuk mencerna serat kasar, bahkan sering lebih rendah daripada babi (Farrell, 1973) dan kemungkinan hal ini berhubungan dengan waktu 'transit' yang cepat dari bahan-bahan berserat melalui saluran pencernaan (Uden dan Van Soest, 1982). Sebaliknya Cheeke (1981) menunjukkan bahwa kelinci mampu memanfaatkan kira-kira 75-80% hijauan. Pada ternak ruminansia, serat kasar hijauan memperpanjang waktu penahanan pakan dalam saluran pencernaan, tetapi hal yang sebaliknya terjadi pada kelinci.

Sumber: Potensi Ternak Kelinci Sebagai Penghasil Daging, Pusat Pengembangan dan Penelitian Peternakan (1984)


Artikel Terkait:

lintasberita

0 komentar:

Poskan Komentar